Monday, November 24, 2014

Cita-cita

Kalo ngomongin cita-cita semasa kecil dulu, keinginan selalu berubah-ubah. Waktu TK, saya bercita-cita menjadi polwan. Waktu pawai 17 Agustusan pake seragam polwan. Bahkan sampe dipinjemin hand-cuffs beneran sama almarhum ayah ke temannya yang polisi, mengakibatkan kakak penjaga saya sewaktu masih TK dulu terborgol tangannya ke terali jendela. Waktu SD, keinginan untuk polwan sudah terlupakan, saya ingin menjadi seorang pemain basket. Untuk ukuran anak SD, ukuran saya termasuk tinggi dan sering diandalkan kelas kalo ada pertandingan basket antar kelas. Gak pernah sampe ikut pertandingan antar sekolah sih, sekolah saya waktu itu lebih mendukung prestasi akademik dibandingkan prestasi non-akademik, tapi ya tetap saja, saya sangat suka bermain basket. Begitu meninggalkan bangku Sekolah Dasar, lagi-lagi cita-cita itu berubah. Saya tidak lagi menyukai kegiatan olah fisik. Bye bye bola basket. Sewaktu saya SMP, sebagian teman-teman saya memiliki masalah dengan kesehatan gigi mereka. Mungkin karena tidak dirawat dengan baik dan sering mengkonsumsi makanan yang membuat gigi keropos, di usia belasan tahun mereka sudah menggunakan gigi palsu. Tidak satu buah, atau dua buah, tapi satu deretan gigi di jajaran terdepan itu palsu semua. Tidak pula satu orang, dua orang yang mengalami masalah ini. Tetapi sebagian besar teman-teman saya. Skala imajinatifnya sih 6:10 lah ya. Memang sih dulu saya tinggal di daerah Bagansiapiapi, sulit mendapat air bersih untuk minum di sana. Sebagian besar masyarakatnya mengkonsumsi air hujan untuk minum dan sikat gigi. Jadi ya wajar sih kalo giginya pada keropos. Gigi saya sendiri tidak dalam kondisi prima, tapi belum sampe ke tahap musti pake gigi palsu lah ya. *nyengir* Intinya, sewaktu saya SMP, gigi palsu lagi trend sekali di kalangan teman-teman saya. Hal ini mengarahkan saya ke cita-cita yang sangat mulia yaitu dokter gigi. Cita-cita ini saya pegang terus sampe saya lulus SMP dan masuk SMA. Tetapi sewaktu saya sudah menginjak kelas XII SMA, masa dimana konsuling jurusan lagi gencar-gencarnya, saya malah kehilangan arah. Kalo ditanya mau kuliah dimana jawabnya, "I have no idea.". Bahkan sampai menamatkan pendidikan SMA saya masih belum punya tujuan mau melanjutkan kemana. Pilih jurusan sewaktu SMPB? Ikut-ikutan teman.

Di antara semua profesi yang saya cita-citakan di masa kecil dulu, tak terbersit sedikit pun keinginan untuk menjadi guru walaupun Mama saya seorang guru, Tapi memang sudah jalan dari Tuhan, siapa sangka sekarang malah saya sangat menikmati pekerjaan ini. Terhitung sudah 1 tahun 9 bulan saya mengajar di P*ngu's English Pekanbaru, sebuah kursus Bahasa Inggris khusus buat anak-anak. Dengan suasana yang kondusif, partner yang menyenangkan, dan anak-anak yang lucu, saya rasa saya akan betah mengajar di sini untuk waktu yang lama. Doakan saya ya. :)


Le kids saying hi..







1 comment:

Ninda said...

aku gak punya cita cita dulunya
pernah pengen jadi dosen tapi end up belum sempet kuliah lagi