Saturday, July 30, 2011

It All Ends

"It was the end of a decade, but the start of an age
 long live all the magic we made!"





Sad to realize that it's all really over. It is just too epic. :'(


Friday, April 22, 2011

Lagi-lagi Soal Pengemis


Saya sudah pernah membahas tentang pengemis berkaki buntung dua kali di postingan sebelumnya. Nah kali ini saya ingin membahas tentang rekan mereka, para pengemis kecil.
Kenapa saya bilang rekan? Karena pengemis anak kecil yang saya perhatikan tempat mangkalnya sama dengan para pengemis 'buntung' itu yaitu di perempatan SKA.

Saya sering memperhatikan para pengemis di sini karena saya hampir setiap hari lewat sana. Pengemis kecil ini ada satu orang yang sudah beberapa kali saya tandai karena sikapnya yang sangat tidak baik untuk seorang anak kecil. Anak kecil perempuan yang usianya tak lebih dari 6 tahun.

Hal yang membuat saya ingat dengan si kecil ini adalah ketika ada pengemis "buntung" baru di area mereka. Mungkin karena menganggap persaingan akan semakin ketat dengan adanya si 'buntung' baru, dia jadi kurang suka dan menginginkan agar si 'buntung' baru pergi.

Hal ini ditunjukkan dengan cara mengata-ngatai si 'buntung'. Gak terima dihina, si 'buntung' balas caci. Umpat-mengumpat dilanjutkan tanpa peduli pada pengendara yang memandang mereka. Dan karena merasa kalah akhirnya si kecil meraup pasir di pinggir jalan dan melemparnya pada si 'buntung'. Lampu berubah hijau dan kami berlalu dari situ dengan kesan mendalam pada si kecil.

Dan kemaren, lagi-lagi saya melihat si anak kecil ini. Kali ini dia berdua dengan temannya, sama-sama pengemis kecil. Awalnya  saya gak memperhatikan mereka sampai saya mendengar kata-kata yang sangat tidak pantas terlontar dari mulut mereka.

"Kau poyo!! Poyo lonte!!" umpatnya marah pada si teman.

Cuma empat kata itu yang terdengar oleh saya karena setelah itu lampu berubah hijau dan kami pun berlalu. Tapi lagi-lagi hal ini menjadi bahan pikiran saya di sepanjang jalan pulang. Bagaimana bisa kata-kata semacam "poyok" dan "lonte" keluar dari mulut seorang anak sekecil itu? Kata-kata yang sangat tidak pantas diucapkan oleh orang dewasa apalagi oleh anak seumuran dia. Merinding rasanya pas dengar teriakan itu. Dia tau gak sih apa yang dia ucapin itu? Atau itu cuma sekedar digunakan untuk meluapkan emosi pada si teman tanpa tau apa yang dia ucapkan? Ntahlah.. Saya penasaran sama si kecil itu. Kasian. Sekaligus jijik sebetulnya. Tapi lebih besar kasihannya. Lain kali kalo lewat sana pengen ajak ngobrol rasanya. Mungkin bawain dia sedikit makanan  dan minuman. Kalo  uang nggak lah. Soalnya mungkin saja ada sindikat yang memperkerja-paksakan anak-anak seusia itu di sana dan uang yang dikasi ke si anak malah digunakan untuk hal yang gak gak oleh orang-orang tak bertanggung-jawab itu.

Tuesday, April 19, 2011

Sepanjang Jalan Pulang

Waktu di jalan pulang les tadi ada dua hal yang saya notice :

1. Ingat pengemis yang pernah saya ceritain di postingan sebelumnya? Yang modusnya  pura-pura berkaki satu? Nah, dulunya pengemis semacam ini di perempatan SKA arah ke Labuh Baru itu  cuma ada satu orang, sekarang udah berkembang jadi tiga orang. Tadi yang saya liat cuma dua orang sih, tapi saya ingat yang dua orang tadi itu bukan yang biasanya nongkrong di sana. Yang dua ini anak baru kayaknya.

Kok saya bisa yakin banget? Ya iyalah, seminggu lima kali saya lewat  sana tiap  berangkat dan pulang les mau gak mau hapal juga kan mukanya. Yang dua ini baru wajahnya, belum familiar. Nah, yang saya gak habis pikir, mereka pikir sebodoh apa sih orang-orang yang lewat sana sampe percaya ada tiga orang pengemis berkaki satu di sana. Modus persis sama. Cowok-cowok berumur belasan atau dua puluhan yang melipat satu kaki ke dalam celana sehingga mereka terlihat buntung sebatas lutut, terus ngesot kesana-kemari dengan tampang memelas berharap orang-orang bakal kasian sama mereka.

2. Kalo yang kedua ini soal sampah. Bukan soal sampah yang menumpuk di pinggir jalan juga, melainkan soal seorang pengendara mobil yang seenaknya membuang sampah di depan muka saya di jalan pulang tadi.

Ini nih yang namanya DON'T  JUDGE THE BOOK JUST FROM THE COVER. Mobil boleh keluaran baru. Plat boleh plat pesanan. Tapi sikapnya  kalah dari pemulung. Pemulung aja kerjaannya mungutin sampah kan. Nah ini, cover orang kaya tapi jaga kebersihan aja gak bisa.

Di jalan raya besar, gak pula sepi, ini jalanan lagi padat-padatnya semrawut sana-sini, dia seenaknya buka kaca jendela dan melempar sampahnya begitu saja. Sampahnya bukan pula tisu atau kertas, tapi gelas plastik bekas minuman yang masih ada es batunya!! Serius ya itu yang buang sampah gak punya otak. Padahal pas saya kejar dan intip (kaca jendela pengemudi terbuka lebar) yang nyetir itu ibu-ibu perlente yang keliatannya high class banget, di sebelah ada anaknya pula, cowok, masih kecil. Ckckck... Contoh ibu yang baik sekali bukan. 

Thursday, March 24, 2011

Teruntuk Mas Pengemis di Simpang Empat SKA

di simpang empat SKA


Mas, saya sudah berapa kali melihat mas meminta-minta di perempatan sini..
Dengan kaki sebelah "buntung",  bermodalkan tangan dan pantat, bergerak ke sana-sini, dengan gagah berani menadahkan tangan demi sesuap nasi..
Mas, saya nggak tau gimana rasanya nggak punya kaki..
Dan mas, demi sesuap nasi rela memaksakan diri berpura-pura tidak mempunyai kaki..
Jangan sampai doa itu dikabulkan Tuhan suatu hari nanti..

Saturday, December 18, 2010

Whether or Not

Whether the weather is fine
or whether the weather is not
whether the weather is cold
or whether the weather is hot
we'll weather the weather
whatever the weather
whether we like it or not

When it is 32 but feels like 39 degree

Tuesday, December 14, 2010

Kaos The Legend



Dapat kiriman paket dari:





saudara Primebound, yang tentu saja ditujukan kepada:



saya







Isi dari paket tersebut adalah:







Jengjengjeng!!! Sebuah kaos dari distro XXX edisi The Legend yang kiyut banget karena Beatles nya berbentuk kartun begini..

(btw, label harganya masih nempel lho)







Dan yang paling saya syukuri adalah kaos ini bisa muat di badan saya yang tidak bisa dibilang sedang-sedang saja ini. Terimakasih. :))



Sunday, November 7, 2010

Wong Ndeso(?)

Ndeso itu buang sampah sembarangan dan banyak wong ndeso di Jakarta yang suka buang sampah sembarangan.

Saya mikir ketika membaca tulisan itu. Apa hubungannya buang sampah sembarangan dengan ndeso? Apa sesuatu yang ndeso itu sudah pasti yang jelek? Dan semua yang jelek-jelek itu sudah pasti ndeso? Kok kesannya sangat tidak adil dan mendiskreditkan desa begitu. Memangnya apa yang salah dengan menjadi orang desa? Toh cuma perbedaan nasib dan kesempatan saja ada yang dilahirkan di kota, ada yang dilahirkan di desa, ada yang dilahirkan di Amerika, ada yang dilahirkan di Surabaya. Kita toh gabisa minta mau dilahirkan dimana, di keluarga macam apa, dan dalam kondisi seperti apa. Semuanya sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa dengan hikmah di balik setiap keberadaan kita. Oke, mulai sok bijak.

Tapi intinya, saya heran. Apa masalahnya dengan status orang desa? Saya tidak malu mengakui bahwa saya orang desa. Kampung saya nun jauh di sana kota kecil terpelosok penghasil ikan di pinggiran selat Malaka yang bahkan namanya belum pernah terdengar oleh kalian. Terus kenapa? Apa dengan menjadi orang desa berarti berstatus lebih rendah dari orang kota?

Masalah kebersihan lingkungan begini menurut saya gak ada hubungannya sama status wong ndeso atau warga kota. Ini cuma masalah kepedulian, yang justru semakin jarang ditemukan di kota-kota besar.

Balik ke masalah wong ndeso, mungkin benar, tingkat pengetahuan sebagian besar orang-orang desa lebih rendah dari pada orang kota. Namun itu bukan berarti mereka bodoh dan ga peduli. Apalagi dengan tuduhan “buang sampah sembarangan itu ndeso”. Ada bukti apa sungai-sungai di Jakarta sono dicemari oleh para wong ndeso? Lo kate Jakarta doang yang punya sungai? Sebanyak itu sungai-sungai lain, tapi kok yang sering kebanjiran Jakarta mulu ya. Di desa-desa apalagi. Kagak pernah nonton TV lo liat noh sungai dan perairan-perairan lain yang ada di desa malah jauh lebih bersih dan jernih daripada sungai-sungai di Jakarta. Trus apa? Yang tinggal di desa itu orang-orang kota? Ngik-ngok..

Sangat tidak adil kan menilai seseorang hanya dari tempat asalnya, desa atau kota. Gara-gara persepsi umum terhadap wong ndeso dan orang kota sih ya. Wong ndeso ya nganggap orang kota itu biasanya kaya, cakep, penampilan oke, dan pintar. Begitu juga sebaliknya, orang kota nganggapnya wong ndeso itu kurang mampu secara ekonomi, ga gaul, norak, penampilan seadanya, dan memiliki tingkat intelektualitas dan intelegensi yang rendah. Padahal tidak begitu kenyataannya. Siapa bilang orang desa ga ada yang tajir, gaya oke, cakep, dan berintelegensi tinggi. Dan liat pula realitas orang-orang  yang tinggal di kota yang cukup banyak menyajikan kemiskinan dimana-mana. Atau bahkan orang-orang kota yang walau sudah sekolah tinggi, ngakunya kaum intelek, punya rumah gedong dan kemana-mana naik mobil mahal, tapi masih juga buang sampah sembarangan.

Gak bisa dipungkiri memang sekarang ini sebutan wong ndeso itu sering banget dipake dan terkesan sangat menyepelekan. Tapi jangan lupa dibalik remehnya sebutan wong ndeso itu masih tersimpan pandangan baik juga tentang sifat-sifat baik orang-orang desa yang lugu, ramah dan baik hati.


Yo wis ben wong arep ngomong opo

Yo wis ben aku ini memang wong ndeso

Yo wis ben arep ngomong empat mata

Yo wis ben sing penting ora kalah karo wong kota

Puas? Puas?


Tukul Arwana