Friday, May 5, 2017

Lunch Break at Japanese School

Saya lagi suka nonton youtube channel yang bercerita tentang kehidupan di Jepang. Mostly yang bikin video-video model begini itu orang-orang asing yang hidup di Jepang, atau yang bukan native Jepang, jadi mereka tau gimana perbandingan hidup di Jepang dan di luar Jepang.

So, there is this Youtube channel yang membahas tentang bagaimana jam makan siang anak-anak primary school di Jepang, yang menurut saya sistemnya sangat edukatif dan layak dicontoh bagi sekolah-sekolah lain di luar Jepang, terutama Indonesia.

Video ini berawal dengan disorotnya salah seorang siswi SD di Jepang saat mau berangkat sekolah.  Si anak diminta untuk menunjukkan tas sekolah dan isi buntelan yang dibawanya. Ada taplak, sumpit, sapu tangan, sikat gigi dan cangkir untuk kumur-kumur.

Scene cut to: kitchen school. Ada 5 orang pekerja yang bertugas untuk mempersiapkan makan siang bagi 682 anak di sekolah tersebut. Jadi saya berasumsi kalo di sekolah tersebut tidak ada kantin atau kafetaria. Kelima pekerja ini memakai pakaian yang pantas, apron, masker dan penutup rambut, supaya kebersihan makanan bagi anak-anak tetap terjaga. Mereka memasak berbagai jenis makanan; mulai dari mashed potato/nasi, lauk, dan sayur untuk anak-anak. Setelah selesai, makanan akan dimasukkan ke dalam tray/container dan dipisah ke dalam troli masing-masing kelas.

Kembali ke anak-anak di kelas, begitu bel jam makan siang berbunyi, para petugas piket makan siang bergegas. Anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok yang piket setiap harinya pada saat jam makan siang. Ada yang bertugas membagikan susu, membagikan roti, ada yang bertugas menyendokkan nasi, sayur dan lauk untuk teman-temannya. Sebelum mulai piket mereka akan mengenakan seragam wajib mereka; apron, masker dan penutup rambut. Kemudian ketua kelompok akan menanyakan apakah semua petugas sehat, apakah ada yang sedang diare, batuk atau flu, apakah semuanya sudah mengenakan penutup pakaian yang pantas. Harus dipastikan para petugas sehat dan tertutup sehingga tidak akan menulari anak-anak lainnya. Setelah dipastikan semuanya dalam kondisi prima, mereka akan mensterilkan tangan mereka dengan menggunakan hand sanitizer dan kemudian pergi ke dapur untuk menjemput jatah makan siang mereka.

Begitu sampai di dapur mereka akan berterima kasih kepada para petugas dapur yang telah mempersiapkan makan siang untuk mereka  sebelum mengambil troli makanan. Satu kebiasaan yang bagus dimana anak-anak diajarkan untuk berterima kasih dan menghargai orang lain.


Petugas Makan Siang
In charge to serve lunch

Petugas susu
In charge to serve milk

Di kelas, para petugas akan berjejer dan anak-anak yang lain akan antri untuk mengambil makan siang masing-masing. Yang bertanggung jawab untuk roti dan susu akan membagikan susu dan roti ke masing-masing meja temannya. Yang bertanggung jawab membagikan mashed potato, sayur dan lauk akan menyendokkan makanan tersebut untuk teman-temannya.  Setelah semua anak mendapatkan makanan masing-masing, guru wali kelas akan menginfokan bahan makanan mereka hari itu didapat dari mana.

“Hari ini kita makan siang dari kentang yang ditanam dan dipanen oleh anak kelas 6. Sedangkan ikan yang akan kita makan, dibeli segar dari pasar tradisional lokal. Minggu depan kita juga akan menanam kentang yang akan dipanen dan bisa kita makan di bulan Juli nanti.”






Mereka tau darimana bahan makanan tersebut didapat, waktu yang dibutuhkan untuk menanam atau usaha yang dibutuhkan untuk mendapatkan makanan tersebut tidak lah mudah. Dari sini anak-anak mendapat pelajaran untuk menghargai proses dan usaha. Juga untuk bersyukur dan tidak membuang-buang makanan.

School Lunch
This looks tasty!

Sampai di sini sudah selesai? Belum. Setelah selesai makan, anak-anak akan membuka kotak susu kosong mereka dan menumpuknya di satu tempat. Siswa piket yang bertanggung jawab untuk susu akan mengambil dan membilas kotak-kotak susu itu untuk kemudian dikeringkan dan keesokan harinya dimasukkan ke tempat recycle. Anak anak lainnya akan meletakkan piring dan mangkok makan siang mereka kembali ke troli dalam keadaan rapi sehingga petugas piket bisa dengan mudah mengembalikan mereka ke dapur. Setelah itu mereka menggosok gigi bersama dan membereskan meja mereka kembali.

Lagi-lagi satu proses yang simple namun berjuta manfaat bagi anak-anak. Saya yakin kalo baik anak-anak maupun orang dewasa di Indonesia masih sangat awam dengan yang namanya reuse, reduce dan recycle. Membedakan tempat sampah organik dan non organik saja sejak saya masih SD sampe sekarang masih belum terealisasikan sampe sekarang di lingkungan kita.  Namun anak-anak di Jepang, mereka sudah berkutat dengan hal-hal semacam ini sehari-hari. Menjaga kebersihan lingkungan, kebersihan tubuh, mendaur ulang sampah, sudah jadi hal yang awam bagi mereka. Kenapa? Karena sudah diperkenalkan dan dibiasakan sejak dini.

Dan hal ini rutin mereka lakukan setiap hari.

Video berdurasi 8 menit ini sukses membuat saya terperangah dan terharu. As I quote from the principal’s statement in the beginning of the video, “The 45 minutes lunch period is considered as an educational period, same as math or reading.” Sama pentingnya dengan pelajaran matematika dan membaca. Pernyataan yang singkat tapi sangat mengena.

Dari sini, banyak hal yang saya pelajari. Anak-anak yang diajarkan konsisten sejak kecil. Mereka diberi tanggung jawab dan kepercayaan untuk melakukan sesuatu dan melayani satu sama lain. Mereka belajar untuk menghargai satu sama lain. Mereka belajar untuk menghargai setiap tetes usaha. Mereka belajar untuk menghargai setiap makanan yang mereka terima. Sesuatu yang sangat jarang saya temui di lingkungan saya sendiri.

Friday, February 20, 2015

[EF] #7 The Picture I Choose to Share



I see happiness in their faces. I see freedom.
Look at them smiling. That is priceless.
Sweet, like a flower starting to bloom.
Look at that the friendship they are starting to build.
Holding hands each other, then laughing over anything random.
Spreading out happiness.

This is not a poetry. This is not a poem.
I just find it simple and hard at the same time to describe the picture.
Still, I choose it to share.



This photo was taken in Pekanbaru, 23rd of December 2013  





Monday, February 16, 2015

[EF] #6 Alter Ego

When the words "alter ego" come to my mind, I can't help but think of Beyonce's "Sasha Fierce". Perhaps because I was a fan of her and I really like her 3rd studio album I Am... Sasha Fierce. But 5 years after the introduction of Sasha fierce, Beyonce announced that she is dead and there was a new alter ego born named YONCE. Proof that somebody might have more than just one alter ego, I think. Okay, forget about Sasha Fierce or YONCE. I am supposed to talk about my own alter ego here.

Well, without looking for the definition of alter ego in a dictionary, in my very basic comprehension, it is someone's other personality that people rarely knows about. Unless you are a famous person and you want to publish it like Beyonce does. It is like Clark Kent and Superman, or Peter Parker and Spiderman. Or.... Let's find other examples of alter ego besides those of the Superheroes. Too mainstream. *thinking thinking* Is it like Miley Cyrus - Hannah Montana style and Miley Cyrus that we see today? Does that count as an alter ego? Or... I know! Do you remember that very poor side of Professor Dumbledore who was wishing for a new pair of socks for his Christmast presents? For someone who is very famous and wise and powerful like him, wishing for a new pair of socks as a present somehow shows his loneliness besides all those popularity and appreciations he has got. The weak and pitiful side of him.

I have spent several days thinking about this alter ego of mine (since the topic for week #6 published), but nothing comes out to my mind. What is my alter ego? What is that other side of me that people does not know? Or is it buried too deep down there in my heart that even I myself do not know about it? I don't know.  Should I create one? And give her a name and decorate her the way I want my wildest side to be? Sounds interesting. I'll update this post once I find it for sure. ;)


Tuesday, February 3, 2015

[EF] #4 Doraemon Magic Tools

I apologize for not being able to join the group chat in BEC Learning Group nor in the Chitchat Group during this last 3 weeks. I also missed the second and the third challenge because I did not have enough time to write or do any blog walking. But this fourth challenge, I cannot afford to miss it since it is about Doraemon and you know how much I love Doraemon. (You don't? Well, fine then.)

So, talking about Doraemon's magic tool, if I am only allowed to pick one, I would choose the magical pocket itself so that I can grab any tools that I want. It's like asking a genie who would only grant one wish for you and for that one wish, you wish that he would grant you 100 more wishes. Choosing only 1 from hundreds of those science fiction-ed tools is impossible for me. I am too greedy. *grin* But I would list my TOP 3.

First, I want that Anywhere Door the most of course, because I really want to visit so many places in the future. Instead of visiting foreign countries, I'd like to explore more about the beauty of Indonesia. We know that Indonesia is a beautiful country, but most places are still virgin or unreachable. Not that it is really unreachable, but mostly they are not tourism spot because there are no transportation or any other accommodations for tourists making it hard to visit. Well, if I have this Anywhere Door, it would be so useful for me to visit any places I want without worrying about the transportation.

The second on the list would be the Jelly Translator!  Well, I think I am so gonna need this in order to talk to Michan. Michan is my only friend who knows everything about me (I told her everything of course) but it seems like she doesn't care  at all because she could not answer or console me when I have problems. She is a cat. Of course she doesn't talk. But it would be so lovely if she could talk. Or should I not give her that Jelly Translator at all? Just in case she tells me to stop complaining instead of consoling me everytime I come to her for an advice. Lol.

And last but not least, I want that machine which takes the form of public phone. I don't know the name. You only need to make a phone call and anything you say, anything you want, anything you demand, would be the rule in the real world. Well, it would be fun if I have that machine and demand that "chubby is the new sexy". No more diet. Everybody may eat everything they want without worrying about their weight. What a useful machine for me and so many other fat people *evil laugh*

Thursday, January 1, 2015

Liburan Kali Ini: #2 Le Sudden Getaway to Alam Mayang

Hari Minggu kemaren out of nowhere si Mami ngajakin jalan-jalan ke Alam Mayang. Kayanya sih sebagai penebus dosa karena gak bisa ajakin kami keluar kota tahun ini sedangkan kami minta izin keluar kota jalan-jalan sama temen gak dibolehin. Jadi ya supaya anak-anaknya gak ngambek-ngambek banget, diajakinlah ke sini. Sebenernya saya dan Nita emoh dibawa ke sini, tapi daripada enggak sama sekali, akhirnya kita oke juga buat pergi (walau ogah-ogahan).

Terakhir sekali saya menginjakkan kaki ke Alam Mayang itu sudah lama sekali. Awal tahun 2009 kalo tidak salah. Dan sorry to say waktu itu sama sekali gak ada yang mengesankan menurut saya. Yang bisa saya ingat dari Alam Mayang hanyalah hutannya yang kotor dan bebek-bebekan di kolam yang musti kita kayuh sendiri. Itu saja. Dan semenjak itu, kalo ada yang ngajakin piknik ke Alam Mayang lagi, saya menolak.

Pagi itu pukul 10, setelah ide buat ke Alam Mayang dilontarkan dan disepakati, kami langsung mandi dan siap-siap, lalu cuss berangkat tanpa bekal apapun (kalo mau piknik ya biasanya kan bawa rantangan dari rumah gitu). Kadung males, ibu-ibunya gak ada yang mau masak, Mami memutuskan untuk beli nasi bungkus saja. Sekalian beli jajanan dan buah-buahan karena kalo jajan di dalam Alam Mayang nanti harganya sudah dapat diperkirakan akan lebih mahal dari harga pasaran. 

Nyaris satu jam perjalanan dari Panam menuju Alam Mayang, kami tiba di sana pukul 11.30. Perut udah keroncongan karena tadi sarapan seadanya. Gelar tikar, langsung lanjut makan siang pake nasi bungkus yang tadi dibeli di rumah makan pinggir jalan. Somehow seru juga makan gelaran tikar di alam terbuka seperti itu. Mana lagi musim liburan dan weekend pula, jadinya hari itu Alam Mayang rame sekali. Kiri kanan kita semuanya lagi seru makan gelaran tikar. Sampe bawa-bawa termos nasi yang segede-gede gaban itu segala. Kebayang kalo di manga-manga, orang-orang Jepang merayakan musim semi dengan melihat bunga sakura dan piknik di taman. Imajinasi saya ya seperti itu,  minus bunga sakuranya saja. 

Selesai makan kita langsung lanjut sholat Dzuhur. Alhamdulillah di dalam tersedia fasilitas musholla dan toilet yang sekarang menurut saya sangat bersih. Walaupun untuk setiap kali pengunaan toiletnya kita akan di charge 2000 rupiah, bagi saya gak masalah, karena urusan sanitasi ini kan penting dan private sekali. 

Selesai sholat Dzuhur, saya lanjut jalan kaki ngiterin Alam Mayang sendirian. Ibu-ibu lebih memilih buat ngobrol di bawah pohon sambil makan kacang. Papa belum balik dari mushola, Akil memilih untuk tidur siang, sedangkan Nita, jangan harap dia akan membiarkan wajahnya terkena sinar matahari sedikit saja. That city slicker, gak seru banget kalo diajak berpetualang. Dia lebih memilih duduk-duduk cantik saja di bawah pohon sambil kipas-kipasan. ~_~ 

Lima tahun tidak ke sini, Alam Mayang gak seperti yang saya ingat sebelumnya. View kolamnya sekarang bersih dan lumayan bagus, hutan-hutannya hijau dan bersih, dan ada penambahan fasilitas dan arena bermain anak. Si bebek pedal masih ada tentu saja, selain itu ada juga tambahan bola air dan boat di wahana air nya (tiket 20,000 sudah termasuk life jacket). Ada kereta-keretaan yang bisa kita tumpangi untuk berkeliling Alam Mayang (tiket: 10,000), ada sarana outbond dan flying fox (tiket: 25,000), arena ATV (tiket: 35,000/10 menit), arena buat main scooter (tiket 10,000) , dan ada zona wisata budaya juga. Kebetulan yang lagi nampil kemaren itu Reog dan Kuda Lumping. Selain itu juga ada wahana bianglala (gak sempat liat harga tiketnya, cuma liat di kejauhan), taman bermain anak (lengkap dengan miniatur hewan-hewan, ayunan, slide/luncuran, seesaw, dan area bermain pasir), ada bazar buku dan souvenir oleh-oleh segala.  Lumayan buat saya yang tidak berekspektasi apa apa sebelumnya.

Misi, numpang selfie~

Pose dengan si Akil

Pengen nyobain ini, apa daya berat badan melebihi limit :(

Ngayuh bebek males

Yowes nyobain ini aja jadinya

Narsis dimana-mana

"Ngapain lo foto-foto di depan gue?" - The Angry Statue

Di aula nya lagi ada kontes binaraga :))))

Well, Pekanbaru bukanlah kota yang terkenal sebagai daerah wisata ataupun keindahan alamnya. Tapi jempol deh buat pemerintah daerah karena sekarang wisata lokal nya sudah lebih rapi dan terkelola. Saya jadi penasaran, apa kabar Danau Buatan atau Kebun Binatang Kasang Kulim ya? Apa sudah lebih baik juga? 

Sunday, December 28, 2014

Liburan Kali Ini: #1 Movie Marathon & Nongki-nongki

Salah satu enaknya jadi guru itu adalah, kalo anak-anak libur sekolah, kita bakal ikutan libur juga. Setelah selesai dengan Holigram hari kedua Selasa lalu, maka resmi sudah semua staf di Pinguu English Pku libur juga. Ntar masuk lagi tanggal lima. Libur 12 hari yay!!!

Namun sayangnya liburan kali tidak didukung dengan kegiatan keluar kota. Well, ada sih teman yang ngajakin tahun baruan ke Sumatera Barat keliling Bukittinggi, Padang dan Pantai Carocok, cuman yang emang dasarnya anak pingitan kok ya susah banget buat dapat izin mau kemana-mana. Maka dengan berat hati undangan buat ikut jalan-jalan itu ditolak dulu. Jadilah liburan kali ini akan saya habiskan dengan blogging (makanya belakangan ini rajin posting dan blogwalking), keluar masuk bioskop buat movie marathon atau sekedar ngopi-ngopi cantik di kafe atau kedai kopi. Lame, i know. Tapi daripada bengong di rumah saja kan.

Hari pertama liburan, which was hari Rabu kemaren, awalnya pengen dihabiskan buat tidur-tiduran saja di rumah recharge energi yang sudah terkuras selama Holigram dua hari sebelumnya. Namun belum juga lewat tengah hari, saya sudah sakau pengen keluar. Bosan. Browsing-browsing jadwal film di 21 dan Holiday88 (dua bioskop teranyar yang ada di Pekanbaru), saya putuskan untuk menonton PK di Holiday88 saja karena selain waktunya yang paling memungkinkan, sepulangnya dari bioskop saya berniat buat mampir sebentar ke Erber Coffee buat minum teh leci. Yah, mampir ke kedai kopi buat minum teh leci somehow terdengar silly.

Film mulai pukul 4.30, saya berangkat dari dari rumah pukul 4. Lima menit sebelum film mulai, saya tiba di Holiday 88 dan langsung ngacir buat beli tiket. "PK pukul 4.30 satu tiket pls." Kata saya ke mbak-mbak yang lagi in charge. Saya lihat layar komputer yang menayangkan pilihan tempat duduk yang masih banyak sekali yang kosong. Walaupun saya sendiri, namun saya diberikan kebebasan untuk memilih tempat duduk. Tumben, biasanya rombongan yang berjumlah ganjil gak boleh duduk di row tengah. Tapi alhamdulillah bisa milih tempat di row favorite saya yang kebetulan masih kosong. Studio yang menayangkan PK memang terlihat masih sangat sepi, hanya ada sekitar 6 seats yang terisi selain seat saya. Well, nevermind. Let's just enjoy the movie.

Berdurasi 150 menit alias dua setengah jam, saya selesai menonton PK pukul 7.00. Review film silahkan baca di sini ya. Tanpa banyak pikir saya langsung keluar bioskop dan berjalan ke arah parkiran. Haus, mau langsung ke Erber buat minum teh leci.

Sesampainya di sana, Erber tidak begitu ramai. Ada dua rombongan customer yang sedang asik ngobrol sesama mereka. Karena bar kosong, saya memilih buat duduk di bar saja supaya bisa ngobrol sama Romi dan Richa, pemilik sekaligus barista di situ. Out of nowhere si Romi ngomong. "Moy, mau nyobain ini gak?" *sambil menyisip espresso nya yang sudah tinggal sedikit. "No, thank you. Mau minum air putih aja." Kilah saya sambil berdiri dan mengambil infused water yang selalu tersedia for free. "Ayolah, gratis kok. Aku bikinin nih!" Sambung Romi lagi. Saya memilih untuk pura-pura tidak dengar dan terlihat seolah sangat menikmati infused water nya yang hari itu ternyata beraroma timun dan sunkis. Yuck! Timun.

Romi masih belum menyerah. "Ayolah, rasanya gak seburuk itu kok. Yang mau aku bikinkan itu ristretto, beda dengan espresso."  Ujarnya lagi. "Bedanya gimana?" Tanya saya gak yakin. Dan Romi pun dengan antusiasnya menjelaskan. "Jadi kopi itu kalo diekstraksi hasilnya ada 3 layer. Layer pertama itu acid nya. Layer kedua itu manis nya. Dan layer ketiga itu pahitnya. Itu yang namanya espresso. Tapi kalo ristretto, yang diambil itu cuma layer pertama dan kedua. Tenggakan pertama rasanya mungkin akan sedikit asam, tapi tenggakan berikutnya udah enak aja tuh. Cocok buat pemula" Ujarnya meyakinkan. Tetapi karena saya masih belum menunjukkan tanda-tanda tertarik untuk mencoba, Romi pun mengeluarkan jurus andalannya. "Aku bikinin nih ya. Kalo abis, aku bikinin hot chocolate. All for free!"

 Tak lama kemudian, secangkir benda hitam ini pun terhidang di depan saya.
A cup of ristretto/short espresso

Keberatan membayangkan rasa pahit yang akan menguar di dalam mulut, saya masih mengulur-ulur waktu untuk meminum benda itu. "Kenapa sih si Romi? Mencurigakan betul, sampe traktir-traktir hot chocolate segala demi-demi aku minum ini?" Saya bertanya pada Richa, pacar nya Romi yang dari tadi duduk di samping saya. "Gemes aku liat orang gak berani minum espresso." Sambar si Romi sambil mengecek suhu ristretto yang sudah dihidangkannya di depan saya. "Nih udah enak buat diminum. Jangan tunggu dingin, rasanya malah berubah jadi asin." Saya meneguk ludah. Yah sudah dibikinkan, mau gak mau musti diminum. 

Bismillahhirohmanirrohim. Dengan menahan nafas akhirnya saya cicipi juga kopi hitam itu. Dan intead of rasa pahit yang saya bayangkan, mulut saya justru dipenuhi rasa asam. Richa dan Romi cengengesan sambil ngeliatin. "Gimana? Gak buruk kan rasanya?" Tanya Richa sambil cengengesan. Saya jawab sambil mengernyitkan alis. "Asyeeem..." Mereka berdua tertawa terbahak-bahak. "Minum lagi. Pasti udah gak asem." "Ntar kalo kamu udah sering minum, kamu bisa bedain itu asem buah atau apa. Rasanya beda-beda lho." Timpal mereka bergantian. 

Le reward

Singkat cerita, saya berhasil menghabiskan the so called ristretto itu dan mendapatkan secangkir hot chocolate yang enak banget sebagai reward. Yiiihhaaaa~ 

Sambil menikmati hot chocolate cuma-cuma kita ngobrol ngalor-ngidul sampe semua customer pulang dan coffeeshop tutup. Ngobrolin menu favorite customer di coffeeshop mereka, ngobrolin kafe baru yang enak dan layak untuk dikunjungi, ngobrolin PK, film yang baru saja saya tonton waktu itu. "Udah lama deh gak nonton. Kita nonton yuk." Kedip Richa pada Romi berharap diajakin nonton. "Udah jam segini masih ada nih film yang belum mulai?"Romi sangsi. "Aku cek di website nya ya. Kalian buruan deh nutup kedainya." Sayang sekali film PK yang terakhir tayang hari itu sudah mulai beberapa menit yang lalu. Satu-satunya film yang tersisa hanya Night at the Museum 3 the Secret of the Tomb. Kadung pengen nonton akhirnya mereka memutuskan buat nonton Night at the Museum saja dan memaksa saya buat ikut nonton juga. "Motornya taro di Erber aja. Kita pergi naik mobil Romi. Ntar nginep di rumahku, besok pagi kita ke sini lagi." Richa kegirangan karena akhirnya setelah sekian lama gak nonton bioskop, malam ini bisa nonton lagi. Gak perlu effort besar sih buat membujuk saya ikut karena saya memang pengen juga nonton Night at the Museum 3. Tadinya pengen lanjut nonton keesokan harinya saja, tapi mumpung diajakin ini ya cuss aja lagi. Selesai beberes kami langsung berangkat ke Holiday88 buat ngejar Night at the Museum 3. Nanti kalo pengen saya tulis ya review nya hehe. 




Friday, December 26, 2014

Movie Review: PK (2014) #SpoilerAlert

Setelah sukses besar dengan 3 Idiots di tahun 2009, kali ini Aamir Khan dan Rajhirani Kumar kembali berkolaborasi bersama dalam film PK. Mengingat kesuksesan yang mereka raih sebelumnya, wajar kalau publik berekspektasi tinggi terhadap film ini. Dan benar saja, it's a mind blowing movie I'd say.

Film ini diawali dengan mendaratnya sebuah UFO di sebuah padang pasir di Rajashtan, India. Aamir Khan (dalam film ini sebenarnya dia tidak mempunyai nama) berasal dari sebuah planet nun jauh di sana, dimana penduduknya walaupun memiliki bentuk fisik seperti manusia bumi, berkeliaran telanjang dan berkomunikasi dengan cara saling membaca pikiran. 

Aamir Khan, ditugaskan untuk turun ke bumi dalam rangka riset. Untuk mempelajari perbedaan apa yang mereka miliki dengan manusia bumi. Berbekalkan hanya sebuah pendant yang sebenarnya adalah remote control pemanggil UFO kendaraan pulangnya, Aamir Khan pun turun ke bumi dan mulai meneliti sekitarnya. 

Masalah mulai muncul ketika Aamir Khan bertemu dengan seorang penduduk lokal yang keheranan melihat sang alien tidak mengenakan selembar pakaian pun. Si alien yang baru pertama kali melihat manusia bumi itu pun keheranan melihat bagaimana manusia bumi berbeda dari dirinya karena memakai pakaian. Dikiranya pakaian itu adalah kulit manusia bumi yang bentuknya bermacam-macam. Ada yang hitam, ada yang putih. Ada yang ketat ada yang longgar. Berbagai macam bentuk dan ukuran pula. Terkesima akan pakaian si manusia bumi, si alien menjadi lengah dan tanpa sadar pendant nya sudah dirampas oleh si manusia bumi. 

Di sinilah petualangan sang alien dimulai. Setelah observasi singkat, si alien mulai mengerti bahwa berkeliaran telanjang tidak dapat diterima di bumi. Bermodalkan pakaian dan uang yang dicurinya dari sebuah dancing car (mobil yang bergoyang-goyang karena di dalamnya ada pasangan yang sedang berhubungan seks), sang alien mulai menjalankan misinya untuk terus mengobservasi manusia bumi sekaligus untuk menemukan kembali pendant (remote control pemanggil UFO) nya yang telah dicuri. Salah satu kekurangan si alien adalah, dia belum bisa berbicara dalam bahasa manusia bumi dan pengetahuannya yang sangat terbatas tentang bumi. Si alien memiliki sebuah kemampuan untuk menyerap memori dengan memegang tangan seseorang, namun sembarangan memegang tangan tidaklah bisa diterima oleh orang lain. Bahkan oleh Bhairon Singh (orang yang tidak sengaja menabraknya dan mengira si alien lupa ingatan dan tidak bisa bicara karena amnesia) mengartikannya sebagai sebuah ketertarikan seksual dan si alien butuh penyaluran akan kebutuhan biologisnya. Bhairon Singh membawa si alien ke sebuah pelacuran dan di sana si alien memegang tangan seorang prostitute selama 6 jam penuh dan mentransfer semua memori serta mempelajari bahasa yang digunakan oleh si prostitute yaitu bahasa hindi.

Di saat bersamaan di Belgia, heroin kita yang bernama Jaggu (Jagat Janani), sedang menyelesaikan kuliahnya di salah satu universitas di sana. Pada suatu hari Jaggu bertemu dan jatuh cinta dengan seorang pria bernama Sarfaraz Yousuf, seorang Muslim yang berasal dari Pakistan. Hubungan cinta ini ditentang oleh ayah Jaggu, penganut Hindu taat, yang sangat tidak menyukai Islam. Sang ayah bahkan berkonsultasi pada Tapasvi (ulama besar Hindu) untuk membawa anaknya kembali ke jalan yang "benar". Tapasvi meramalkan bahwa Sarfaraz akan mengkhianati Jaggu karena semua pria Muslim itu tidak baik. Bertekad untuk membuktikan pada ayahnya bahwa Tapasvi tidak selalu benar, Jaggu mengajak Sarfaraz menikah. Jaggu dan Sarfaraz pun berjanji untuk bertemu keesokan harinya di sebuah gereja dan catatan sipil. Jaggu datang dengan mengenakan gaun pernikahan dan membawa buket bunga. Namun yang didapatnya justru sebuah surat tanpa nama yang diantarkan padanya oleh seorang anak kecil. Tersugesti oleh ramalan Tapasvi, Jaggu mengira surat itu ditujukan dari Sarfaraz untuk dirinya. Patah hati, Jaggu pun kembali ke India walau tak lagi diterima oleh keluarganya.

Beberapa bulan berselang di Delhi, Jaggu sedang di dalam perjalanan menuju kantornya ketika dia bertemu dengan seorang pria aneh yang tak lain tak bukan adalah mister alien kita, yang membagi-bagikan selebaran aneh di dalam kereta bertuliskan, "Missing! GOD!" "Telah hilang, Tuhan!"Hubungi PK di reruntuhan tangga jika kau menemukannya!" Selebaran yang sangat aneh menurut Jaggu. Merasa ada cerita di balik pria ini, Jaggu memutuskan untuk menguntitnya. Dan benar saja, Jaggu menemukan banyak sekali keunikan pada pria aneh itu.  Singkat cerita, Jaggu berhasil mewawancarai si alien aneh ini yang ternyata dipanggil PK yang artinya Typsy atau mabuk karena ocehan-ocehannya yang kadang tidak masuk akal. Si alien jujur menceritakan asal usulnya dan identitasnya yang sebenarnya kepada Jaggu, tetapi Jaggu tentu saja tidak percaya begitu saja dan malah menuduh PK gila. Namun akhirnya PK berhasil membuat Jaggu percaya pada dirinya dengan menunjukkan kemampuannya yang mampu membaca pikiran orang lain jika berpegangan tangan dengan orang tersebut.

Terkejut akan kebenaran yang ditunjukkan PK, Jaggu pun mempercayai PK dan bertekad untuk membantu PK untuk menemukan kembali pendantnya yang hilang.

Film ini mengangkat isu agama yang beredar di India, tentang perbedaan umat Islam dan Hindu dan Katholik dan sebagainya. PK, sang alien yang tidak mengenal Tuhan, berusaha mencari keberadaan Tuhan karena setiap dia minta bantuan kepada seseorang untuk membantunya menemukan pendant itu, jawaban yang dia terima selalu, "Hanya Tuhan yang tahu.'", "Minta tolonglah kepada Tuhan.", "Hanya Tuhan yang bisa membantumu." Dia bertanya-tanya, bagaimana caranya supaya Tuhan membantunya. "Berendamlah di sungai Gangga dan pecahkan kelapa di depan patung Tuhan." Kata umat Hindu. Namun begitu dia bertandang ke rumah Tuhan yang lain (gereja) dengan membawa kelapa, dia diusir dan dilarang masuk. Umat Khatolik di dalamnya menyembah Tuhan mereka dan mempersembahkan anggur. Maka pergilah dia membeli anggur supaya diperbolehkan berdoa kepada Tuhan. Begitu anggur sudah di tangan, dia bertanya kepada orang yang ditemuinya di jalan dan bertanya, "Dimanakah rumah Tuhan yang terdekat?" Dan dia diarahkan oleh orang tersebut menuju mesjid. Dengan membawa anggur memasuki mesjid, tau sendiri kan apa yang akan terjadi pada PK? PK bingung. Kenapa ada banyak sekali Tuhan. Kenapa permintaan dan peraturan-Nya berbeda-beda? Tuhan yang mana yang harus dia mintai tolong?

Isu yang cukup berat untuk diangkat dalam sebuah film. Gak heran kalo film PK ini di banned di beberapa tempat/negara karena dianggap tidak pantas dan melecehkan. Namun, jika penonton cukup cerdas, saya rasa mereka bisa memilah bagian mana yang bisa diterima dan bagian mana yang tidak bisa diterima.

Apakah PK akan menemukan kembali pendant nya? Apakah PK bisa kembali ke planet asalnya? Apa yang sebenarnya terjadi antara Jaggu dan Sarfaraz? Nonton sendiri aja yah selengkapnya. Film ini layak tonton sekali kok. Berbobot, namun dipenuhi dengan kekonyolan dan joke-joke ringan sehari-hari yang tidak basi.

Genre: komedi, drama, fantasi
Running Time: 2 jam 30 menit
Rate: 8,5 / 10

P.s: this is just my personal-non-professional judgement ya ;) Just an amateur review. :)
Selamat menikmati..