My Life in Suit Deck "Gemini Project"
Zack and Cody were doing something like outbond,
Zack: (super tired) My muscles r crying!
Cody: It's called sweat!
P.s: I just tried to do a cardio dance. It seems so easy, but so damn hurt!! Yes, it makes my muscles crying too..
Monday, September 26, 2011
Saturday, July 30, 2011
It All Ends
"It was the end of a decade, but the start of an age
long live all the magic we made!"
Sad to realize that it's all really over. It is just too epic. :'(
Friday, April 22, 2011
Lagi-lagi Soal Pengemis
Saya sudah pernah membahas tentang pengemis berkaki buntung dua kali di postingan sebelumnya. Nah kali ini saya ingin membahas tentang rekan mereka, para pengemis kecil.
Kenapa saya bilang rekan? Karena pengemis anak kecil yang saya perhatikan tempat mangkalnya sama dengan para pengemis 'buntung' itu yaitu di perempatan SKA.
Saya sering memperhatikan para pengemis di sini karena saya hampir setiap hari lewat sana. Pengemis kecil ini ada satu orang yang sudah beberapa kali saya tandai karena sikapnya yang sangat tidak baik untuk seorang anak kecil. Anak kecil perempuan yang usianya tak lebih dari 6 tahun.
Hal yang membuat saya ingat dengan si kecil ini adalah ketika ada pengemis "buntung" baru di area mereka. Mungkin karena menganggap persaingan akan semakin ketat dengan adanya si 'buntung' baru, dia jadi kurang suka dan menginginkan agar si 'buntung' baru pergi.
Hal ini ditunjukkan dengan cara mengata-ngatai si 'buntung'. Gak terima dihina, si 'buntung' balas caci. Umpat-mengumpat dilanjutkan tanpa peduli pada pengendara yang memandang mereka. Dan karena merasa kalah akhirnya si kecil meraup pasir di pinggir jalan dan melemparnya pada si 'buntung'. Lampu berubah hijau dan kami berlalu dari situ dengan kesan mendalam pada si kecil.
Saya sering memperhatikan para pengemis di sini karena saya hampir setiap hari lewat sana. Pengemis kecil ini ada satu orang yang sudah beberapa kali saya tandai karena sikapnya yang sangat tidak baik untuk seorang anak kecil. Anak kecil perempuan yang usianya tak lebih dari 6 tahun.
Hal yang membuat saya ingat dengan si kecil ini adalah ketika ada pengemis "buntung" baru di area mereka. Mungkin karena menganggap persaingan akan semakin ketat dengan adanya si 'buntung' baru, dia jadi kurang suka dan menginginkan agar si 'buntung' baru pergi.
Hal ini ditunjukkan dengan cara mengata-ngatai si 'buntung'. Gak terima dihina, si 'buntung' balas caci. Umpat-mengumpat dilanjutkan tanpa peduli pada pengendara yang memandang mereka. Dan karena merasa kalah akhirnya si kecil meraup pasir di pinggir jalan dan melemparnya pada si 'buntung'. Lampu berubah hijau dan kami berlalu dari situ dengan kesan mendalam pada si kecil.
Dan kemaren, lagi-lagi saya melihat si anak kecil ini. Kali ini dia berdua dengan temannya, sama-sama pengemis kecil. Awalnya saya gak memperhatikan mereka sampai saya mendengar kata-kata yang sangat tidak pantas terlontar dari mulut mereka.
"Kau poyo!! Poyo lonte!!" umpatnya marah pada si teman.
Cuma empat kata itu yang terdengar oleh saya karena setelah itu lampu berubah hijau dan kami pun berlalu. Tapi lagi-lagi hal ini menjadi bahan pikiran saya di sepanjang jalan pulang. Bagaimana bisa kata-kata semacam "poyok" dan "lonte" keluar dari mulut seorang anak sekecil itu? Kata-kata yang sangat tidak pantas diucapkan oleh orang dewasa apalagi oleh anak seumuran dia. Merinding rasanya pas dengar teriakan itu. Dia tau gak sih apa yang dia ucapin itu? Atau itu cuma sekedar digunakan untuk meluapkan emosi pada si teman tanpa tau apa yang dia ucapkan? Ntahlah.. Saya penasaran sama si kecil itu. Kasian. Sekaligus jijik sebetulnya. Tapi lebih besar kasihannya. Lain kali kalo lewat sana pengen ajak ngobrol rasanya. Mungkin bawain dia sedikit makanan dan minuman. Kalo uang nggak lah. Soalnya mungkin saja ada sindikat yang memperkerja-paksakan anak-anak seusia itu di sana dan uang yang dikasi ke si anak malah digunakan untuk hal yang gak gak oleh orang-orang tak bertanggung-jawab itu.
Tuesday, April 19, 2011
Sepanjang Jalan Pulang
Waktu di jalan pulang les tadi ada dua hal yang saya notice :
1. Ingat pengemis yang pernah saya ceritain di postingan sebelumnya? Yang modusnya pura-pura berkaki satu? Nah, dulunya pengemis semacam ini di perempatan SKA arah ke Labuh Baru itu cuma ada satu orang, sekarang udah berkembang jadi tiga orang. Tadi yang saya liat cuma dua orang sih, tapi saya ingat yang dua orang tadi itu bukan yang biasanya nongkrong di sana. Yang dua ini anak baru kayaknya.
Kok saya bisa yakin banget? Ya iyalah, seminggu lima kali saya lewat sana tiap berangkat dan pulang les mau gak mau hapal juga kan mukanya. Yang dua ini baru wajahnya, belum familiar. Nah, yang saya gak habis pikir, mereka pikir sebodoh apa sih orang-orang yang lewat sana sampe percaya ada tiga orang pengemis berkaki satu di sana. Modus persis sama. Cowok-cowok berumur belasan atau dua puluhan yang melipat satu kaki ke dalam celana sehingga mereka terlihat buntung sebatas lutut, terus ngesot kesana-kemari dengan tampang memelas berharap orang-orang bakal kasian sama mereka.
Kok saya bisa yakin banget? Ya iyalah, seminggu lima kali saya lewat sana tiap berangkat dan pulang les mau gak mau hapal juga kan mukanya. Yang dua ini baru wajahnya, belum familiar. Nah, yang saya gak habis pikir, mereka pikir sebodoh apa sih orang-orang yang lewat sana sampe percaya ada tiga orang pengemis berkaki satu di sana. Modus persis sama. Cowok-cowok berumur belasan atau dua puluhan yang melipat satu kaki ke dalam celana sehingga mereka terlihat buntung sebatas lutut, terus ngesot kesana-kemari dengan tampang memelas berharap orang-orang bakal kasian sama mereka.
2. Kalo yang kedua ini soal sampah. Bukan soal sampah yang menumpuk di pinggir jalan juga, melainkan soal seorang pengendara mobil yang seenaknya membuang sampah di depan muka saya di jalan pulang tadi.
Ini nih yang namanya DON'T JUDGE THE BOOK JUST FROM THE COVER. Mobil boleh keluaran baru. Plat boleh plat pesanan. Tapi sikapnya kalah dari pemulung. Pemulung aja kerjaannya mungutin sampah kan. Nah ini, cover orang kaya tapi jaga kebersihan aja gak bisa.
Di jalan raya besar, gak pula sepi, ini jalanan lagi padat-padatnya semrawut sana-sini, dia seenaknya buka kaca jendela dan melempar sampahnya begitu saja. Sampahnya bukan pula tisu atau kertas, tapi gelas plastik bekas minuman yang masih ada es batunya!! Serius ya itu yang buang sampah gak punya otak. Padahal pas saya kejar dan intip (kaca jendela pengemudi terbuka lebar) yang nyetir itu ibu-ibu perlente yang keliatannya high class banget, di sebelah ada anaknya pula, cowok, masih kecil. Ckckck... Contoh ibu yang baik sekali bukan.
Ini nih yang namanya DON'T JUDGE THE BOOK JUST FROM THE COVER. Mobil boleh keluaran baru. Plat boleh plat pesanan. Tapi sikapnya kalah dari pemulung. Pemulung aja kerjaannya mungutin sampah kan. Nah ini, cover orang kaya tapi jaga kebersihan aja gak bisa.
Di jalan raya besar, gak pula sepi, ini jalanan lagi padat-padatnya semrawut sana-sini, dia seenaknya buka kaca jendela dan melempar sampahnya begitu saja. Sampahnya bukan pula tisu atau kertas, tapi gelas plastik bekas minuman yang masih ada es batunya!! Serius ya itu yang buang sampah gak punya otak. Padahal pas saya kejar dan intip (kaca jendela pengemudi terbuka lebar) yang nyetir itu ibu-ibu perlente yang keliatannya high class banget, di sebelah ada anaknya pula, cowok, masih kecil. Ckckck... Contoh ibu yang baik sekali bukan.
Thursday, March 24, 2011
Teruntuk Mas Pengemis di Simpang Empat SKA
![]() |
| di simpang empat SKA |
Mas, saya sudah berapa kali melihat mas meminta-minta di perempatan sini..
Dengan kaki sebelah "buntung", bermodalkan tangan dan pantat, bergerak ke sana-sini, dengan gagah berani menadahkan tangan demi sesuap nasi..
Mas, saya nggak tau gimana rasanya nggak punya kaki..
Dan mas, demi sesuap nasi rela memaksakan diri berpura-pura tidak mempunyai kaki..
Jangan sampai doa itu dikabulkan Tuhan suatu hari nanti..
Saturday, December 18, 2010
Whether or Not
Whether the weather is fine
or whether the weather is not
whether the weather is cold
or whether the weather is hot
we'll weather the weather
whatever the weather
whether we like it or not
When it is 32 but feels like 39 degree
or whether the weather is not
whether the weather is cold
or whether the weather is hot
we'll weather the weather
whatever the weather
whether we like it or not
When it is 32 but feels like 39 degree
Tuesday, December 14, 2010
Kaos The Legend
Dapat kiriman paket dari:

saudara Primebound, yang tentu saja ditujukan kepada:
![]() |
| saya |

Isi dari paket tersebut adalah:

Jengjengjeng!!! Sebuah kaos dari distro XXX edisi The Legend yang kiyut banget karena Beatles nya berbentuk kartun begini..
(btw, label harganya masih nempel lho)

Dan yang paling saya syukuri adalah kaos ini bisa muat di badan saya yang tidak bisa dibilang sedang-sedang saja ini. Terimakasih. :))
Subscribe to:
Posts (Atom)




