Saturday, January 19, 2013

The Tale of a Tempat Tisu

Liat gambar di atas. Can you tell what is it by looking at the picture? Hell yes, it's sushi!! Tapi bukan sushi beneran. Itu sushi mainan. Terbuat dari bahan flanel, jelas tidak bisa dimakan. :)) Again saya ulangi, itu bukan sushi beneran, melainkan sushi bohongan. Dibuat sebagai hiasan dari sebuah kotak tisu murahan. Lah, gara-gara #rhyme saya jadi kayak lagi berpuisi ya.  :))

Itu tempat tisu favourite saya. Karena saya cuma punya satu kotak tisu. Walau jarang diisi karena saya jarang beli tisu. Tapi dibiarin gitu aja dia udah cakep sih. Karena hiasan sushi-sushiannya. Kadang kalo lagi kelaperan dia menggoda iman juga. Menggoda iman buat dimakan. Biasa, orang lapar kadang melihat fatamorgana. Fatamorgana apa lagi kalo bukan itu sushinya saya hayal-hayalin jadi sushi beneran. 

Oiya, sebelum ada yang minta dibuatin nih, saya tekankan, hiasan kotak tisu itu bukan karya saya. Jelas bukan, saya tidak sekreatif itu. Kotak tisu ini saya beli dari seorang teman yang lebih kreatif dari saya. Dengan harga 45ribu rupiah saja, dapat kotak tisu dengan hiasan boleh pilih; sushi, blackforest, tart ulang tahun, atau apa saja. Mungkin kalo mau request bentuk opor atau kari ayam juga dia bisa membuatnya. 

Yasudah sih. Saya hanya mau pamer hiasan kotak tisu saya saja. Jangan minta saya buatkan ya. Saya tidak bisa. 

Friday, January 11, 2013

Orang yang Paling Menderita di Negeri Ini

Orang yang paling menderita di negeri ini adalah orang yang tepat waktu. Demikian yang gue percaya. Tau kenapa? Karena keakraban orang Indonesia dengan satu istilah yang bernama "jam karet". Ntah sejak kapan istilah jam karet ini membudaya di Indonesia, seingat gue sejauh gue bisa mengingat hal ini sudah menjadi alasan lumrah bagi orang-orang yang tidak bisa menghargai waktu. Ya. Demikian gue mendeskripsikan para penganut jam karet. Orang-orang yang tidak bisa menghargai waktu.


Di Indonesia, jam karet ini hal yang sangat biasa. Bisa terjadi kapan saja. Di mana saja. Mau meeting. Lelet. Mau kondangan. Lelet. Pembukaan suatu acara. Tidak jarang molor juga. Bahkan janjian sama teman mau pergi bareng aja gak jarang dihiasi pertengkaran dulu karena salah satu pihak yang seenaknya membuat pihak lain menunggu. Pengalaman pribadi.

Padahal katanya waktu adalah uang kan. Time is money. Doesn't mean that u can sell ur time to gain money, no no, bukan itu maksudnya. Tapi seandainya bisa dijual pun, memangnya ada orang yang mau menjual waktu nya demi uang? Gak tau sih ya. Kali aja kepepet. #ngawur

Bahkan orang asing yang tinggal di Indo aja udah akrab lho sama istilah ini. Misalnya Mr. Fery, tutor di Preparation Class  for ISG. Di setiap kelas nya pasti aja ada siswa yang terlambat, gak kira-kira pula telatnya sampe sejam lebih. Dia kesel dong, tapi cuma bisa senyum-senyum kecut sambil bilang "jam karet". Yes, he knows istilah jam karet!! Dan ntah dia gak yakin orang Indo memang bakal susah banget buat tepat waktu atau gimana, akhirnya dia berlakuin peraturan toleransi keterlambatan, boleh masuk kelas kalo terlambat kurang dari  30 menit. Iya, telat 30 menit masih ditolerir. Kalo lebih dari 30 menit, tidak diperkenankan masuk ke kelas. Menurut gue mah gak usah kasi masuk aja sekalian. Iya nggak sih?

Sama ceritanya dengan Sato Sensei, Sensei di Tomodachi (Kursus Bahasa Jepang). Setiap hari jam kedatangan setiap siswanya itu dicatet coba. Berapa menit lebih awal datangnya, berapa menit terlambat datangnya, semua dicatat. Gak tau buat apa, mungkin buat catatan pribadinya, tapi sama dengan Mr. Fery, toleransi keterlambatan masih diberlakukan. Maksimal 30 menit.

Jadi intinya itu, menurut pendapat pribadi gue tapi ini lho ya, budaya jam karet itu sudah melekat terlalu kuat di pikiran orang Indonesia. Sudah berakar. Akarnya akar tunggang yang gede pula jadi susah buat  nyabutnya. Mind set kita itu "Ah, buat apa gue datang tepat waktu, toh yang lain ntar telat juga. Daripada gue yang nunggu. Mending sama-sama telat." Begitu yang sudah tertanam di pikiran mereka. Sedangkan bagi orang-orang bermental perubahan, ya derita lo aja sono, siapa suruh sok-sokan buat on time. 

Monday, January 7, 2013

Sing Sing Sing Sing Singapore!

I've been liking everything about Singapore lately.. The people. The place. The culture. And so on and so on. Let's say that I am just so in love with Singapore after that AFC moment. Haha~ Lebay banget gak sih. Mungkin di sini gue kena banget sama pepatah "Tak kenal maka tak sayang". Selama ini tau Singapur kan tau namanya doang dan gak berusaha buat mengenal lebih jauh negaranya, atau budayanya. Tapi setelah berkesempatan buat jadi LO Timnas Singapur selama AFC Qualifiers Juli kemaren dan tinggal dan berinteraksi dengan mereka selama 2 minggu , boleh dibilang gue jadi sangat tertarik dengan Singapur. They left me good impressions. 

Btw, it's too late kalo gue mau koar-koar cerita soal tentang pengalaman gue selama jadi LO, maybe later deh kalo gue lagi melow dan kangen sama Coach Mike baru gue bikin postingan khusus tentang beliau, sekarang gue mau review cerita soal film Singapur yang gue tonton baru-baru ini. Filmnya sih udah lama tapi bagus banget, musti nonton!

Jarang kan denger orang ngomongin film Singapur? Biasanya itu film barat, film Indo, film India, film Korea, film Jepang, dan yang baru-baru ini populer juga film Thailand. Tapi kalo film Singapur, gak sepopuler itu di Indonesia. 

Judul film yang gue tonton itu "I Not Stupid". Singapur banget kan, grammar nya diskon sana sini. :)) Release tahun 2002, jadi memang udah agak jadul. Durasinya 105 menit. Dan bahasa yang digunakan multilingual. Ada Singlish, English, Mandarin, dan Hokkien. Kalo mau download film ini musti cari sub nya yang bagus, kalo enggak bakal pusing sekali karena bahasanya campur-campur. Oiya, di film ini ada bahasa Indonesia nya juga lho.. Waktu bos nya ngomong sama pembantunya. =__=" Haiya~ Jauh-jauh di Singapur orang Indo tetap dapat peran pembantu la~

I Not Stupid Movie Poster

Film ini diceritakan dari sudut pandang seorang anak bernama Terry Khoo. Anak yang terlahir kaya dan memiliki segalanya, memiliki seorang ibu yang berulang kali mengklaim dirinya "a good and responsible mother", seorang ayah yang suka sekali berteriak dan memiliki usaha bisnis "chinese barbequed pork" or something like that, dan seorang kakak (Selena) yang rebelius dan suka menentang ibunya. Terry ini berbeda dari kakaknya yang pembangkang, adalah tipikal "mommy boy", patuh sekali dengan apapun yang dikatakan maminya. Mami bilang ini, dia ikut. Mami bilang itu dia ikut. Bahkan waktu temannya mengejeknya anak mami dan apakah dia akan memakan kotoran juga jika maminya meminta demikian dia jawab iya. "yes, I will eat the shit. Because if it is mom, she  will make it really delicious". Tipikal orang Singapur, kata filmnya, sangat patuh. 

Terry ini punya dua teman akrab  di kelas. Liu Kok Pin dan Ang Boon Hock. Mereka bertiga berada di kelas level EM3 yang mana merupakan level terendah dalam level edukasi Singapura, dimana anak-anak ini cenderung disepelekan oleh teman-temannya, lingkungan, keluarga bahkan gurunya dan dianggap sebagai kelas terbuang dan tidak bisa diselamatkan lagi. 

Liu Kok Pin, anak yang lemah dalam pelajaran Math dan English (dua pelajaran paling krusial di sistem pendidikan Singapur), selalu mendapat tekanan dari ibunya dan dituntut untuk meraih nilai 90. Ibu Kok Pin menolak melihat keadaan bahwa bakat anaknya adalah menggambar, bukan dalam belajar, dan selalu menghukum anaknya dengan rotan jika Kok Pin gagal mendapat nilai 90. Saking tertekannya si anak, sampai nyaris bunuh diri dengan cara melompat dari lantai 11 sebuah apartemen. 

Ang Boon Hock, teman Terry dan Kok Pin, seorang anak yang lebih dewasa dari umurnya karena keadaan keluarga. Harus membantu ibunya berjualan dan menjaga adiknya setiap hari sehingga tidak punya waktu untuk belajar. Tapi dia sebenarnya anak pintar dan punya kemauan belajar, apalagi setelah mendapat dorongan dari Guru Lee, wali kelas barunys, nilai-nilainya meningkat pesat.

Sorry gak ada eksekusi dari review tulisan gue tentang film ini, kalo mau tau lanjutannya nonton aja filmnya sendiri.. Tapi yang bisa gue simpulkan dari film ini (sebagai calon guru~) setiap anak itu berbeda, keadaannya, sifatnya dan kemampuannya, sehingga butuh pendekatan yang berbeda untuk memahami mereka. Hal ini lah yang dilakukan oleh Guru Lee sehingga dia bisa mendorong Boon Hock untuk mencintai pelajaran matematika, mengikutsertakan Kok Pin dalam Konter Menggambar Internasional dan meraih juara dua, dan membuat orang tua Kok Pin sadar bahwa bukan hanya dengan kemampuan Maths dan English anak mereka bisa sukses. Namun yang lebih penting lagi, karena ini film keluarga dan menurut saya wajib ditonton oleh para orang tua, komunikasi antara anak dan orang tua lah yang paling penting.. Guru tidak bisa melakukan tugas mendidik tanpa bantuan orang tua. Orang tua juga harus kooperatif dengan guru dan berusaha untuk lebih memahami kemampuan anaknya instead of memaksa anak melakukan hal yang tidak mereka sukai atau kuasai. 

Sisi positif film ini: akting anak-anak ini sangat natural dan isu yang diangkat universal, sesuai dengan kehidupan masyarakat sehari-harinya

Sisi negatif film ini: iklan komersil produk nya banyak banget bo~~ ngalah-ngalahin Habibie Ainun!! :))